CINTA

Just another WordPress.com weblog

KATA-KATA MUTIARA Februari 18, 2008

Filed under: Uncategorized — Rabetsa Kariono @ 5:14 pm

Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.

Ø Seseorang manusia harus cukup rendah hati untuk mengakui kesilapannya, cukup bijak untuk mengambil manfaat dari pada kegagalannya dan cukup berani untuk membetulkan kesilapannya.

Ø Dalam hidup, terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Dan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, akhirnya kita tahu bahwa yang kita inginkan terkadang tidak dapat membuat hidup kita menjadi lebih bahagia.

(more…)

Iklan
 

CINTA

Filed under: Uncategorized — Rabetsa Kariono @ 4:30 pm
Tags: , , ,

“CINTA” adalah media komunikasi bagi anak muda khususnya generasi muda yang berusaha tampil lebih kreatif, inovatif, berwawasan luas… but yang pasti gaul en funky abizz… tanpa melepaskan eksistensinya sebagai generasi muda yang terus berkiprah menjaga hubungan sosial lewat kata “CINTA”.

 

Early Warning System Tsunami Ala Simeulue

Filed under: Uncategorized — Rabetsa Kariono @ 3:55 pm

Seni sastra tutur Nandong di Simeulue yang mengabarkan peristiwa smong atau tsunami berfungsi sebagai early warning system (sistem peringatan dini) dan telah menyelamatkan masyarakat kepulauan tersebut dari bencana gempa dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004. Masyarakat dunia dapat belajar dari kearifan lokal (local wisdom) masyarakat Simeulue dalam menghadapi bencana.

Syair Nandong memuat nasihat-nasihat tentang peristiwa smong atau tsunami yang terjadi di Simeulue yang membuktikan bahwa masyarakat Pulau Simeulue memiliki pengetahuan dan kearifan lokal dalam menghindari resiko bencana karena membudayakan penceritaan kembali kisah-kisah masa lampau melalui media sastra tutur Nandong.

Kearifan lokal dari seni Nandong yang dituturkan secara turun temurun telah mengingatkan masyarakat setempat segera lari menuju bukit atau tempat tinggi manakala terjadi gempa yang diikuti dengan laut surut mendadak. Inilah yang terjadi pada saat tsunami pada 2004 silam. Korban jiwa hanya beberapa orang saja. Berbeda dengan kawasan pesisir Aceh lainnya yang sama sekali tidak mempunyai pengetahuan penyelamatan tsunami.

baca selengkapnya